Pengaruh Pakan Ternak terhadap Kualitas Susu Sapi Perah

KARYA TULIS SISWA (KTS)

Diajukan untuk salah satu syarat kenaikan kelas

Disusun Oleh :

Kelompok 19

XI IPA 5

Rahayu Ramadhani

Rasyta Hikmah

Reynaldi Samba Pratama

Reza Firmansyah

Rini Antika

Risko Sianipar

Royani

Sindy Stefani

Siti Suryani

Sri Rahayu Ningsih

JURUSAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UPTD SMA NEGERI 14

TANGERANG

TAHUN AJARAN 2010/2011

Pengaruh Pakan Ternak terhadap Kualitas Susu Sapi Perah

Disusun Oleh :

Kelompok 19

XI IPA 5

Rahayu Ramadhani

Rasyta Hikmah

Reynaldi Samba Pratama

Reza Firmansyah

Rini Antika

Risko Sianipar

Royani

Sindy Stefani

Siti Suryani

Sri Rahayu Ningsih

Disetujui dan disahkan oleh :

Pembimbing

Sahatma Rafindo, S.Pd

Mengetahui,

Kepala Sekolah SMA Negeri 14 Tangerang

Drs. H.M Bay Masruri, MM

NIP. 19550908 198203 1 005

Lembar Persetujuan Penguji

Dengan rahmat Allah SWT maka kami menyatakan bahwa:

Judul Karya Tulis        : Pengaruh Pakan Ternak terhadap Kualitas Susu Sapi Perah

Yang disusun oleh      :

Kelompok 19

XI IPA 5

Rahayu Ramadhani

Rasyta Hikmah

Reynaldi Samba Pratama

Reza Firmansyah

Rini Antika

Risko Sianipar

Royani

Sindy Stefani

Siti Suryani

Sri Rahayu Ningsih

Telah dinilai dan disetujui oleh penguji pada hari Selasa, 22 Februari 2010

Tim Penguji

Penguji I                                                                                  Penguji II

Mahroji, S.Pd F.H.Senowaty NIP.197512072002121002                                                     NIP.197307092006041014

Kata Pengantar

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perkenan-Nya lah kami dapat menyelesaikan karya tulis ini tepat pada waktunya. Adapun karya tulis ini kami buat sebagai salah satu syarat kenaikan kelas.

Karya tulis ini dibuat atau disusun berdasarkan hasil kerja kelompok. Karya tulis ini dapat menjelaskan dan memberikan pengetahuan tentang Pengaruh Pakan Ternak terhadap Kualitas Susu Sapi Perah.

Materi karya tulis ini disusun dengan sedemikian rupa agar pembaca dapat mengetahui tentang Pengaruh Pakan Ternak terhadap Kualitas Susu Sapi Perah, dan kami berharap bahwa karya tulis siswa ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Kami juga menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangan. Untuk itu, kami membuka kritik dan saran untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Tangerang, 22 Februari 2010

Tim Penulis

Daftar Isi

Lembar Pengesahan………………………………………………………………………..ii

Lembar Persetujuan Penguji……………………………………………………….iii

Kata Pengantar…………………………………………….………………………..iv

Daftar Isi………………………………………………………………………………v

BAB I

Pendahuluan…………………..………….……………………………………..……1

A.     Latar Belakang Masalah….……….……..………………………….…………..1

B.     Rumusan Masalah……….………………………………………….……………2

C      Batasan Masalah.……………………….………………………………………..2

D.     Tujuan…………………………………….……………………………………..2

BAB II

Landasan Teori……………………………………………………………….………3

A.     Pakan Ternak Sapi Perah……………………………………………….………..3

B.     Kualitas Susu Sapi Perah..…………………………………….…………………3

BAB III

Metodologi Penulisan………………………………………………………………..4

A.     Metode Pengambilan Data……………………………………………………….4

B.     Instrumen Pengambilan Data………………………………………………….…4

BAB IV

Pembahasan……………………….………………………………………………… 5

A.          Pakan Sapi Perah………………………….…………………………………….5

B.           Istilah-istilah Nutrisi Pakan……………………………………………………..9

C.           Kandungan Susu Sapi…………………………………………………………10

BAB V

Penutup………………………………………………………………………………14

A.          Kesimpulan…………………………………………………………………….14

B.           Saran……………………………………………………………………………14

Daftar Pustaka……………………………………………………………………….15

Lampiran…………………………………………………………………………….16

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Sapi perah merupakan hewan ternak yang menghasilkan susu sebagai produk utamanya. Susu dan produk olahannya adalah bahan pangan dan pangan bagi konsumsi manusia. Kebutuhan akan susu terus semakin meningkat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, tingkat pendapatan, dan selera masyarakat. Tetapi kualitas susu harus tetap dipertanyakan seiring dengan meningkatnya permintaan susu. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas susu. Salah satunya adalah  pakan ternak.

Sehubungan dengan pakan ternak, besar keinginan kami untuk mengetahui pakan ternak beserta kandungannya yang diberikan untuk sapi perah. Agar kami dapat memahami pengaruh dari pakan ternak yang diberikan terhadap kualitas susu sapi perah tersebut.

Hasil dari pemahaman kami, kami bentuk dalam karya tulis ini. Adapun judul yang kami ajukan adalah “Pengaruh Pakan Ternak terhadap Kualitas Susu Sapi Perah.”

B. Rumusan Masalah

Dalam karya tulis ini kami membuat rumusan masalah agar mudah dipahami sebagai berikut :

1.            Apakah jenis pakan ternak yang diberikan untuk sapi perah?

2.            Apakah kandungan yang dibutuhkankan sapi perah dalam pakan tersebut?

3.            Apakah pengaruh yang diberikan pakan ternak terhadap kualitas susu sapi perah?

C. Batasan Masalah

Dari perumusan masalah diatas, kami memberikan batasan masalah agar pembahasan yang akan dibahas lebih terfokus. Adapun batasan masalah tersebut adalah pemahaman pakan ternak untuk sapi perah dalam segi jenis dan kandungan yang ada didalamnya. Sehingga dapat dipahami pengaruh yang diberikan pakan ternak terhadap kualitas susu sapi perah.

D. Tujuan

Adapun tujuan yang didapat dari karya tulis siswa ini, sebagai berikut :

1.            Agar pembaca dapat megetahui jenis pakan ternak yang diberikan untuk sapi perah.

2.            Agar pembaca dapat memahami kandungan yang terdapat dalam pakan ternak sapi perah.

3.            Agar pembaca dapat mengerti akan pengaruh yang diberikan pakan terhadap kualitas susu sapi perah.

BAB II

Landasan Teori

A. Pakan Ternak Sapi Perah

Pakan untuk ternak, terutama untuk ternak Sapi yang sehat memerlukan jumlah pakan yang cukup dan berkualitas. Nutrisi yang terkandung dalam pakan ternak merupakan unsur penting untuk menjamin kesehatan sapi, pertumbuhan badan yang optimal dan kesehatan reproduksi. Sapi muda memerlukan jumlah pakan yang terus meningkat sampai dicapai pertumbuhan badan yang maksimal. Sapi yang sedang bunting memerlukan pakan dengan kandungan nutrisi yang lebih baik untuk pertumbuhan fetus. Pakan hijauan kaya akan berbagai nutrisi yang diperlukan seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Disamping itu, sapi memerlukan ketersediaan serat kasar yang cukup. Jenis pakan : (1) pakan kasar; merupakan pakan yang kadar nutrisinya rendah, yakni kandungan nutrisi pakan tidak sebanding dengan jumlah fisik volum pakan tersebut. Misalnya rumput alam, jerami, batang jagung, pucuk daun singkong, dll. Sapi sangat membutuhkan pencernaan untuk bekerja secara baik, membuat rasa kenyang dan mendorong kelancaran getah kelenjar pencernaan ke luar. Rumput yang sudah menua kandungan nutrisinya telah menurun. (2) pakan penguat; merupakan pakan yang mengandung nutrisi tinggi dengan kadar serat kasar yang rendah. Pakan konsentrat meliputi bahan pakan yang terdiri dari biji-bijian, jagung giling, tepung kedelai, dedak, dll. Peranan pakan konsentrat adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal hewan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat (Akoso BT. (1996) yang dikutip oleh http://duniaveteriner.com).

B. Kualitas Susu Sapi Perah

Susu yang berkualitas, adalah susu yang memenuhi standar kandungan susu

sapi. Menurut Prof. Douglas Goff, seorang dairy scientist dari University of Guelph, Kanada menyatakan, komposisi susu terdiri atas air (water), lemak susu (milk fat), dan bahan kering tanpa lemak (solids nonfat). Kemudian, bahan kering tanpa lemak terbagi lagi menjadi protein, laktosa, mineral, asam (sitrat, format, asetat, laktat, oksalat), enzim (peroksidase, katalase, pospatase, lipase), gas (oksigen, nitrogen), dan vitamin (vit. A, vit. C, vit. D, tiamin, riboflavin). Persentase atau jumlah dari masing-masing komponen tersebut sangat bervariasi karena dipengaruhi berbagai faktor seperti faktor bangsa (breed) dari sapi.

Susu merupakan bahan pangan yang memiliki komponen spesifik seperti lemak susu, kasein (protein susu), dan laktosa (karbohidrat susu) (http://brohenk.multiply.com).

BAB III

Metodologi Penulisan

A. Metode Pengambilan Data

Dalam penyusunan karya tulis siswa (KTS), pengambilan atau pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan (observasi) dan telaah pustaka.

B. Instrumen Pengambilan Data

Adapun alat yang digunakan untuk mengambil atau mengumpulkan data adalah dengan wawancara, pengambilan gambar (foto) di lokasi pengamatan, serta internet dan buku untuk menelaah pustaka.

BAB IV

Pembahasan

A. Pakan Sapi Perah

Pakan adalah seluruh bahan material yang bisa dibuat untuk ransum (hasil racikan) dan aman untuk dikonsumsi ternak. Jadi, pakan adalah raw material atau bahan baku pakan (Firman, 2010). Pakan sapi terdiri dari 60% hijauan dan 40% konsentrat (http://wah1d.wordpress.com).

Jenis pakan : (1) pakan kasar; merupakan pakan yang kadar nutrisinya rendah, yakni kandungan nutrisi pakan tidak sebanding dengan jumlah fisik volum pakan tersebut. Misalnya pada hijauan yang terdiri dari rumput alam, jerami, batang jagung, pucuk daun singkong,dll. (2) pakan penguat; merupakan pakan yang mengandung nutrisi tinggi dengan kadar serat kasar yang rendah. Pakan konsentrat meliputi bahan pakan yang terdiri dari biji-bijian, jagung giling, tepung kedelai, dedak, dll (Akoso BT. (1996) yang dikutip oleh (http://duniaveteriner.com).

1. Hijauan

Yang dimaksud hijauan adalah makanan berserat kasar tinggi (cellulose atau hemi-cellulosa) yang biasa dikonsumsi oleh ternak, biasanya berupa tanam-tanaman (Firman, 2010).

Namun hijauan yang sering diberikan pada sapi perah berupa rumput-rumputan dan leguminosa. Ada berbagai jenis rumput yang dapat diberikan kepada sapi perah (Firman, 2010). Berdasarkan Hartadi, dkk (1990), ada 14 macam rumput yang diidentifikasi dapat diberikan pada ternak ruminansia, termasuk sapi perah, yaitu rumput benggala, rumput bintang afrika (african star grass), rumput ekor rubah afrika, rumput gajah, rumput gigirinting, rumput jaragua, rumput jukut jaladi, rumput kikuyu, rumput pangola, rumput para, rumput ruzi, rumput rhodes, rumput setari/setaria, dan rumput signal. Akan tetapi, hijauan yang sering diberikan kepada sapi perah di Indonesia adalah rumput gajah atau rumput raja. Sedangkan jenis leguminosa yang biasa dikonsumsi oleh ternak ruminansia, termasuk sapi perah, seperti daun kaliandra, daun turi, daun garnal, callopo, siratro, lamtoro, daun akasia, daun nangka, daun ubi jalar dan sebagainya (Firman, 2010).

Rumput gajah mampu menghasilkan rumput sebanyak 200 – 300 ton/ha/tahun. Rumput gajah dapat dipanen setiap 36 – 42 hari sekali dan mampu menghasilkan rumput gajah sebannyak 22 – 33 ton/ha setiap kali panen. Rumput raja bisa lebih tinggi produksinya, yaitu bisa mencapai 400 ton/ha/tahun atau kalau dalam bentuk bahan kering produksinya mencapai 72 ton/ha/tahun. Rumput raja dapat diproduksi pada umur 2-3 bulan pada penanam pertama. Tujuan pemotongan pada umur tersebut untuk menyamakan pertumbuhan dan selanjutnya dapat dipanen setiap 6 minggu sekali. Sedangkan rumput benggala mampu berproduksi 60 – 100 ton/ha/tahun (Firman, 2010).

Selain jenis rumput dan leguminosa yang dapat diberikan pada ternak, juga jenis hijauan lainnya yang mempunyai serat kasar tinggi ataupun hijauan yang diawetkan ataupun hasil ikutan pertanian lainnya, seperti jerami padi, jerami jagung, silase (salah satu cara pengawetan hijauan), limbah sayur-sayuran, dan sebagainya. Yang jelas, hijauan yang diberikan itu bisa mempertimbangkan tingkat palatabilitas, nilai nutrisi, ketersediaan, dan tidak bersaing dengan manusia. Hal ini diperlukan karena ternak tersebut dikandangkan. Berbeda halnya dengan sapi perah yang dilepas atau tidak dikandangkan (grazing system), sapi perah dipaksa untuk mencari rumputnya sendiri. Melalui penciumannya, sapi perah mampu mendeteksi jenis hijauan yang disukainya dan menyingkirkan hijauan yang tidak disukainya, termasuk hijauan yang beracun (Firman, 2010).

Pakan hijauan kaya akan berbagai nutrisi yang diperlukan seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral (Akoso BT. (1996) yang dikutip oleh (http://duniaveteriner.com). Berdasarkan Bamualim, dkk (2009), umumnya hijauan sapi perah dibagi menjadi tiga kategori, yaitu (1) rumput berkualitas medium (menengah), (2) rumput berkualitas rendah – menengah, dan (3) hijauan berkualitas rendah. Rumput berkualitas menengah mempunyai protein tercerna antara 10 – 15%, contohnya rumput gajah, rumput raja, hijauan tanaman jagung, dan sebagainya. Rumput berkualitas rendah – menengah adalah rumput yang mempunyai protein tercerna antara 4 – 10%, contohnya rumput lapangan dan gurma. Terakhir adalah hijauan berkualitas rendah yaitu hijauan yang mempunyai protein tercerna 0 – 4%, contohnya limbah pertanian (jerami padi, jerami jagung, dan sisa-sisa potongan ataupun sayur-sayuran terbuang).

Kebiasaan peternak sapi perah di Indonesia adalah pemberian hijauan pada ternak dengan sistem cut and carry. Artinya, para peternak mencari dan mengumpulkan hijauan hari ini untuk kebutuhan sapi perah esok harinya. Kebutuhan hijauan untuk sapi perah dalam bentuk segar adalah 10% dari bobot tubuhnya. Misalnya, jika bobot badan sapi perah sebesar 400 kg, maka hijauan yang diberikan minimal 40 kg/hari/perekor. Bisa dibayangkan, jika petani mempunyai sapi perah sedang laktasi sebanyak 3 ekor dengan berat tersebut diatas, maka perhari petani tersebut harus menyediakan rumput sebanyak 120 kg/harinya. Sekarang ini, harga rumput gajah merangkak naik sehingga kondisi ini bisa menyebabkan biaya pakan membengkak. Di samping itu, kebiasaan cut and carry yang dilakukan oleh peternak sapi perah ini akan mengalami hambatan di saat musim kemarau karena hijauan yang dicari semakin terbatas. Peternak kita belum terbiasa untuk menyimpan cadangan hijauan dalam bentuk kering ataupun memberikannya dalam bentuk kering kepada sapi perahnya. Situasi kekurangan hijauan pada musim kemarau terus menerus berulang dari tahun ke tahun, walaupun ada beberapa peternak sudah menerapkan pakan hijauan kering kepada sapi perahnya (Firman, 2010).

Seringkali bahan pakan ternak dibuat dalam bentuk hijauan/bahan kering (BK) (Firman, 2010). Berdasarkan Tabel 1.1 (terlampir), dapat dengan jelas digambarkan kebutuhan hijauan / bahan kering untuk setiap periode perkembangan sapi perah. Ada dua faktor yang mempengaruhi kebutuhan akan bahan kering untuk ternak, yaitu umur dan bobot hidup ternak. Menurut Hartadi, dkk (1990), bahan kering dibagi menjadi tiga dasar bahan kering, yaitu as feed (kering jemur), partially dry (kering oven), dry (bebas air). As feed (kering jemur) adalah makanan yang dimakan oleh ternak atau bisa juga diberikan dalam bentuk kering jemur/kering udara (misalnya, hay). Biasanya, bahan kering dalam bentuk as feed masih mengandung banyak air di dalam bahan pakan tersebut. Partially dry (kering oven) adalah pakan yang diberikan sudah dalam bentuk kering oven. Biasanya, bahan pakan dikeringkan dalam suhu 60ºC atau kering beku. Hasilnya adalah bahan pakan tersebut mengandung bahan kering sebesar 88% dan kandungan air sebanyak 12%. Umumnya, konsentrat yang diproduksi oleh pabrik pakan dan koperasi berbentuk kering oven. Terakhir adalah dry (kering tanpa air) yaitu bahan pakan yang telah dikeringkan sampai 105ºC sehingga kandungan air di dalam bahan pakan tersebut nol.

2. Konsentrat

Berdasarkan Hartadi, dkk (1990), konsentrat adalah suatu bahan makanan yang digunakan bersama dengan bahan makanan lainnya untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan makanan dan dimaksudkan untuk disatukan dan dicampurkan sebagai suplemen atau pelengkap. Jadi, konsentrat adalah makanan pelengkap utama bagi sapi perah yang kaya akan energi dan protein. Pakan konsentrat terdiri dari berbagai bahan makanan yang dicampur berdasarkan komposisi nutrisinya, misalnya total nutrisi tercerna (Total Digestible Nutrient = TDN) atau energi, dan protein kasar (PK). Selain itu, sapi perah juga memerlukan mineral untuk kebutuhan hidupnya, misalnya natrium (Na), kalsium (Ca), phosphorm (P), dan vitamin-vitamin. Untuk mengantisipasi ternak sapi perah kekurangan mineral, para peternak biasanya menggantungkan garam batu di kandang sapi perah. Jika sapi perah kekurangan mineral dari pakan yang diberikan, maka sapi perah akan menjilati garam sampai terpenuhi kebutuhan mineralnya (Firman, 2010).

Perhitungan kebutuhan protein dan energi berdasarkan berat bedan sapi dan produksi susu serta kandungan lemak susu berdasarkan Tabel 1.2 (terlampir):

Misalnya berat badan sapi 350 Kg, produksi susu 10 liter dengan kandungan lemak 3% maka :

Kebutuhan protein         : 341 + (10 x 77) = 1111 gram

Kebutuhan ME              : 10,76 + (10 x 1,07) = 21,46 M Kal

Kebutuhan TDN                        : 14 + (10 x 0,282) = 16,82 Kg

(http://www.linkpdf.com)

Bahan-bahan makanan yang dijadikan konsentrat sebaiknya memiliki kriteria sebagai berikut: palatabilitasnya tinggi, kandungan nutrisinya cukup baik, tersedia setiap saat dan tidak bersaing dengan manusia, serta harga terjangkau. Selain kriteria tersebut, di dalam mencari sumber bahan pakan penyusun konsentrat, perlu juga memperhatikan adanya anti nutrisi di dalam bahan pakan tersebut. Anti nutrisi ini bisa menjadi racun bagi ternak, kandungannya tidak diukur terlebih dahulu (Firman, 2010).

Sebenarnya, Indonesia kaya akan sumber-sumber bahan pakan untuk konsentrat sapi perah. Akan tetapi, baru beberapa sumber pakan yang dapat diidentifikasi dan ketersediaannya terbatas sehingga belum mampu diproduksi dalam jumlah besar. Berdasarkan Bamualim, dkk (2009), ada tiga kelompok bahan pakan sebagai bahan dasar penyusun konsentrat, yaitu:

1.            Sumber Energi (energi yang siap digunakan ternak): dedak padi, wheat pollard, ongok/gaplek, dedak jagung, tetes tebu, dan sebagainya.

2.            Sumber Protein: bungkil kacang tanah, bungkil kacang kedelai, bunkil kelapa, ampas tahu, ampas kecap, serta bungkilan-bungkilan lainnya.

3.            Sumber Energi dan Protein: bungkil inti sawit (BIS), kulit kakao, dry destilled grain soluble (DDGS) yang merupakan pakan hasil ikutan pembuatan etanol jagung, ampas bir, dan sebagainya.

Bamualim, dkk (2009), menyatakan bahwa produk konsentrat harus memenuhi standar baku, yaitu minimal 16% protein kasar dan 67% TDN, maksimal 12% kadar air, 6% lemak kasar, 11% serat kasar, 10% abu, serta kandungan mineral Ca sebanyak 0,9-1,2% dan P sebanyak 0,6-0,8%. Akan tetapi, beberapa hasil pemeriksaan terhadap beberapa yang beredar di masyarakat menunjukkan nilai TDN-nya kurang dari 55% dan protein kasar di bawah 13%. Hal ini bisa menyebabkan produksi susu menjadi rendah, bahkan untuk kebutuhan pokok saja tidak tercukupi. Oleh karena itu diperlukan pengawasan yang ketat terhadap produk konsentrat yang diproduksi oleh pabrik pakan ataupun koperasi ujung-ujungnya yang rugi adalah peternak sapi itu sendiri. Bahkan, guna memenuhi kekurangan kebutuhan nutrisi sapi perah, para peternak sering kali menambahkan ongok atau ampas tahu kepada ternaknya. Artinya, beban biaya pakan pun akan bertambah yang nantinya akan mengurangi pendapatan peternak dari pendapatan susu (Firman, 2010).

Salah satu bahan pakan hijauan yang dapat dijadikan pakan alternatif pengganti konsentrat adalah Kaliandra (Calliandra calothyrsus). Kaliandra termasuk tanaman leguminosa  yang biasanya tumbuh namun bisa dimanfaatkan sebagai pengendali erosi dan tanaman naungan (Djaja, dkk., 2007). Kandungan nutrisi daun Kaliandra cukup potensial sebagai sumber pakan alternatif pengganti konsentrat karena mengandung 26,4% bahan kering, 24% protein kasar, 21,7% serat kasar, 8% abu, 1,6% Ca, 0,2% P, dan 12,6% energi (Nadaraja, 1978 yang dikutip oleh Simbaya, 2002). Faktor pembatas pemanfaatannya adalah tanin, namun tidak berpengaruh bila pemberiannya sekitar 30-40% dalam ransum (Djaja, 2007).

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Djaja, dkk., 2007 bahwa ada dua manfaat dari kombinasi rumput, konsentrat 80% + daun kaliandra 20% yaitu produksi susu 4% FCM meningkat dan mampu menghemat anggaran untuk pembelian konsentrat. Dengan demikian, pemberian daun Kaliandra dapat memberikan manfaat yang cukup signifikan terhadap biaya pakan.

B. Istilah-istilah Nutrisi Pakan

Di dalam mempelajari pakan ternak, terdapat beberapa istilah yang sering digunakan. Di bagian ini hanya akan dijelaskan beberapa istilah umum terkait dengan pakan ternak.

Seperti yang diilustrasikan pada Gambar 1.1 (terlampir), sapi perah sangat membutuhkan nutrisi bagi kebutuhan hidup pokok dan berproduksi. Nutrisi adalah kandungan zat-zat nutrisi yang terdapat di dalam bahan pakan (Firman, 2010). Adapun kandungan nutrisi yang terdapat dalam pakan sapi sebagai berikut:

1.      Air ; Air dibutuhkan pada masa pertumbuhan, masa laktasi, dan pada saat suhu udara panas. Kebutuhan air rata-rata sapi dewasa sebanyak 20-30 liter setiap hari. Kebutuhan cairan tidak hanya berasal dari air minum, tetapi juga berasal dari pakan hijauan/rumput.

2.      Karbohidrat ; Bahan pakan hijauan kaya akan serat kasar dan memiliki daya cerna rendah. Biji-bijian tanaman seperti jagung dan gandum mengandung karbohidrat bervariasi antara 65-75 %. Karbohidrat dibutuhkan untuk membentuk energi dan menghasilkan lemak tubuh. Tumbuh-tumbuhan membentuk karbohidrat dari air dan karbon dioksida dengan bantuan sinar matahari melalui proses fotosintesis.

3       Lemak ; Lemak diperlukan oleh tubuh sebagai sumber energi dan pembawa vitamin yang larut di dalamnya seperti vitamin A, D, E, dan K.

4.      Protein ; Di dalam tubuh hewan, protein dipergunakan untuk membangun jaringan tubuh, hormon dan enzim-enzim. Sampai batas tertentu sapi dapat mengatasi sendiri kekurangan protein karena adanya jasad renik dalam rumen yang mampu membentuk unsur tersebut.

5.      Vitamin A ; Diperlukan untuk memelihara kekuatan epitel terutama pada mata, alat respirasi, alat digesti, alat reproduksi dan kulit. Disamping itu, vitamin A juga diperlukan untuk membantu proses pertumbuhan, reproduksi, dan ketahanan terhadap infeksi. Sumber vitamin A : tanaman hijau dan jagung (karotin B). Kebutuhan sapi terhadap vitamin A adalah 2.200 IU/50 kg BB/hari.

6.      Vitamin D ; tidak berasal dari pakan hijauan, melainkan dibentuk dengan bantuan sinar matahari, susunan pakan ternak atau oleh kulit hewan itu sendiri. Sumber vitamin D : produk hewani seperti minyak ikan, mentega dan kuning telur. Vitamin D diperlukan untuk metabolisme dan mengatur keseimbangan pemakaian unsur Ca dan P di dalam tubuh, terutama dalam pembentukan tulang. Kebutuhan sapi terhadap vitamin D adalah 330 IU/50 kgBB/hari.

7.      Vitamin E ; banyak terdapat dalam minyak bijian dan hijau daun. Fungsi vitamin E adalah sebagai antioksidan, baik dalam pakan maupun dalam sel hati setelah penyerapan.

8.      Vitamin K ; hampir setiap jenis tanaman mengandung vitamin K. Disamping itu, vitamin K juga dibentuk oleh jasad renik yang terdapat di dalam usus. Vitamin K disintesis dalam bentuk menadion atau menadion sodium bisulfit yang sudah ada di pasaran.

9.      Vitamin B ; dapat dibentuk sepenuhnya di dalam rumen sehingga sangat kecil kemungkinan defisiensi vitamin B pada sapi, kecuali terjadi kekurangan pakan. Air susu sapi juga mengandung vitamin B.

10.    Kalsium ; konsentrasi Ca dalam pakan kasar cukup tinggi, tetapi pada biji-bijian relatif rendah. Leguminose kaya akan Ca dibandingkan rumput atau jerami. Pada sapi perah, karena kebutuhan Ca yang tinggi, sebaiknya pakan harus cukup mengandung Ca dan P dengan rasio 2:1.

11.    Fosfor ; ransum sapi yang berasal dari alam biasanya kekurangan P karena ransum serat kasar sering kurang. Apabila pakan utama hanya berasal dari rumput alam dan tongkol jagung misalnya, maka tingkat kandungan P akan menurun. Ini disebabkan kandungan P berkurang pada rumput yang mulai menua. Untuk proses pencernaan yang baik, level P di dalam ransum harus mendekati 0.2%. Pakan yang mengandung protein tinggi secara relatif juga mengandung P yang cukup. Umumnya pakan padi-padian mengandung P yang cukup. Sapi memerlukan P sebanyak 44-66 mg/kgBB.

(Akoso BT. (1996) yang dikutip oleh (http://duniaveteriner.com)

C. Kandungan Susu Sapi

Prof. Douglas Goff, seorang dairy scientist dari University of Guelph, Kanada menyatakan, komposisi susu terdiri atas air (water), lemak susu (milk fat), dan bahan kering tanpa lemak (solids nonfat). Kemudian, bahan kering tanpa lemak terbagi lagi menjadi protein, laktosa, mineral, asam (sitrat, format, asetat, laktat, oksalat), enzim (peroksidase, katalase, pospatase, lipase), gas (oksigen, nitrogen), dan vitamin (vit. A, vit. C, vit. D, tiamin, riboflavin). Persentase atau jumlah dari masing-masing komponen tersebut sangat bervariasi karena dipengaruhi berbagai faktor seperti faktor bangsa (breed) dari sapi.

Susu merupakan bahan pangan yang memiliki komponen spesifik seperti lemak susu, kasein (protein susu), dan laktosa (karbohidrat susu).

1. Lemak susu

Persentase lemak susu bervariasi antara 2,4% – 5,5%. Lemak susu terdiri atas trigliserida yang tersusun dari satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak (fatty acid) melalui ikatan-ikatan ester (ester bonds). Asam lemak susu berasal dari aktivitas mikrobiologi dalam rumen (lambung ruminansia) atau dari sintesis dalam sel sekretori. Asam lemak disusun rantai hidrokarbon dan golongan karboksil (carboxyl group). Salah satu contoh dari asam lemak susu adalah asam butirat (butyric acid) berbentuk asam lemak rantai pendek (short chain fatty acid) yang akan menyebabkan aroma tengik (rancid flavour) pada susu ketika asam butirat ini dipisahkan dari gliserol dengan enzim lipase.

Lemak susu dikeluarkan dari sel epitel ambing dalam bentuk butiran lemak (fat globule) yang diameternya bervariasi antara 0,1 – 15 mikron. Butiran lemak tersusun atas butiran trigliserida yang dikelilingi membran tipis yang dikenal dengan Fat Globule Membran (FGM) atau membran butiran lemak susu. Komponen utama dalam FGM adalah protein dan fosfolipid (phospholipid). FGM salah satunya berfungsi sebagai stabilisator butiran-butiran lemak susu dalam emulsi dengan kondisi encer (aqueous) dari susu, karena susu sapi mengandung air 87%.

Lemak susu mengandung beberapa komponen bioaktif yang sanggup mencegah kanker (anticancer potential), termasuk asam linoleat konjugasi (conjugated linoleic acid), sphingomyelin, asam butirat, lipid eter (ether lipids), b-karoten, vitamin A, dan vitamin D. Meskipun susu mengandung asam lemak jenuh (saturated fatty acids) dan trans fatty acids yang dihubungkan dengan atherosklerosis dan penyakit jantung, namun susu juga mengandung asam oleat (oleic acid) yang memiliki korelasi negatif dengan penyakit tersebut. Lemak susu mengandung asam lemak esensial, asam linoleat (linoleic acid) dan linolenat (linolenic acid) yang memiliki bermacam-macam fungsi dalam metabolisme dan mengontrol berbagai proses fisiologis dan biokimia pada manusia (D. Mc Donagh dkk., (1999) yang dikutip oleh http://brohenk.multiply.com).

2. Protein susu

Protein dalam susu mencapai 3,25%. Struktur primer protein terdiri atas rantai polipeptida dari asam-asam amino yang disatukan ikatan-ikatan peptida (peptide linkages). Beberapa protein spesifik menyusun protein susu. Kasein merupakan komponen protein yang terbesar dalam susu dan sisanya berupa whey protein. Kadar kasein pada protein susu mencapai 80%. Kasein terdiri atas beberapa fraksi seperti alpha-casein, betha-casein, dan kappa-casein. Kasein merupakan salah satu komponen organik yang berlimpah dalam susu bersama dengan lemak dan laktosa.

Kasein penting dikonsumsi karena mengandung komposisi asam amino yang dibutuhkan tubuh. Dalam kondisi asam (pH rendah), kasein akan mengendap karena memiliki kelarutan (solubility) rendah pada kondisi asam. Susu adalah bahan makanan penting, karena mengandung kasein yang merupakan protein berkualitas juga mudah dicerna (digestible) saluran pencernaan.

Kasein asam (acid casein) sangat ideal digunakan untuk kepentingan medis, nutrisi, dan produk-produk farmasi. Selain sebagai makanan, acid casein digunakan pula dalam industri pelapisan kertas (paper coating), cat, pabrik tekstil, perekat, dan kosmetik.

Pemanasan, pemberian enzim proteolitik (rennin), dan pengasaman dapat memisahkan kasein dengan whey protein. Selain itu, sentrifugasi pada susu dapat pula digunakan untuk memisahkan kasein. Setelah kasein dikeluarkan, maka protein lain yang tersisa dalam susu disebut whey protein.

Whey protein merupakan protein butiran (globular). Betha-lactoglobulin, alpha-lactalbumin, Immunoglobulin (Ig), dan Bovine Serum Albumin (BSA) adalah contoh dari whey protein. Alpha-lactalbumin merupakan protein penting dalam sintesis laktosa dan keberadaannya juga merupakan pokok dalam sintesis susu.

Dalam whey protein terkandung pula beberapa enzim, hormon, antibodi, faktor pertumbuhan (growth factor), dan pembawa zat gizi (nutrient transporter). Sebagian besar whey protein kurang tercerna dalam usus. Ketika whey protein tidak tercerna secara lengkap dalam usus, maka beberapa protein utuh dapat menstimulasi reaksi kekebalan sistemik. Peristiwa ini dikenal dengan alergi protein susu (milk protein allergy).

3. Karbohidrat susu

Karbohirat merupakan zat organik yang terdiri atas karbon, hidrogen, dan oksigen. Karbohidrat dapat dikelompokan berdasarkan jumlah molekul gula-gula sederhana (simple sugars) dalam karbohidrat tersebut. Monosakarida, disakarida, dan polisakarida merupakan beberapa kelompok karbohidrat. Laktosa adalah karbohidrat utama susu dengan proporsi 4,6% dari total susu. Laktosa tergolong dalam disakarida yang disusun dua monosakarida, yaitu glukosa dan galaktosa. Rasa manis laktosa tidak semanis disakarida lainnya, semacam sukrosa. Rasa manis laktosa hanya seperenam kali rasa manis sukrosa.

Laktosa dapat memengaruhi tekanan osmosa susu, titik beku, dan titik didih. Keberadaan laktosa dalam susu merupakan salah satu keunikan dari susu itu sendiri, karena laktosa tidak terdapat di alam kecuali sebagai produk dari kelenjar susu. Laktosa merupakan zat makanan yang menyediakan energi bagi tubuh. Namun, laktosa ini harus dipecah menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim bernama laktase agar dapat diserap usus.

Enzim laktase merupakan enzim usus yang digunakan untuk menyerap dan mencerna laktosa dalam susu. Enzim adalah suatu zat yang bekerja sebagai katalis untuk melakukan perubahan kimiawi, tanpa diikuti perubahan enzim itu sendiri. Jika kekurangan enzim laktase dalam tubuhnya, manusia akan mengalami  gangguan pencernaan pada saat mengonsumsi susu. Laktosa yang tidak tercerna akan terakumulasi dalam usus besar dan akan memengaruhi keseimbangan osmotis di dalamnya, sehingga air dapat memasuki usus. Peristiwa tersebut lazim dinamakan intoleransi laktosa.

(http://brohenk.multiply.com)

BAB V

Penutup

A.     Kesimpulan

Seperti yang sudah pernah dibahas dalam landasan teori, bahwa susu sapi yang berkualitas adalah susu sapi yang memenuhi standar kandungan susu sapi perah. Adapun kandungan-kandungan susu tersebut ialah air (water), lemak susu (milk fat), dan bahan kering tanpa lemak (solids nonfat). Yang kemudian, bahan kering tanpa lemak terbagi lagi menjadi protein, laktosa, mineral, asam (sitrat, format, asetat, laktat, oksalat), enzim (peroksidase, katalase, pospatase, lipase), gas (oksigen, nitrogen), dan vitamin (vit. A, vit. C, vit. D, tiamin, riboflavin). Kandungan-kandungan tersebut sebagian besar terkandung juga dalam pakan ternak. Adapun kandungan yang terdapat dalam pakan ternak ialah sebagai berikut: air, karbohidrat, lemak, protein, vitamin A, D, E, K, B, kalsium dan fosfor. Kandugan-kandungan pakan tersebut sangat dibutuhkan untuk produktivitas susu agar dapat memenuhi standar kandungan susu. Apabila tidak terpenuhi, susu yang dihasilkan pastilah tidak memenuhi standar.

Maka dari itu tidak dapat dipungkiri bahwa pakan ternak mempunyai peranan penting dalam produktivitas susu yang berkualitas.

B.     Saran

Adapun saran yang kami berikan melalui karya tulis siswa ini, agar pemerintah dapat lebih memerhatikan pakan yang disediakan peternak untuk sapi perah agar kebutuhan kandungan nutrisi terpenuhi dengan baik, sehingga susu yang dihasilkanpin berkualitas.

Selain itu, bagi para pembaca yang ingin memberikan kritik dan saran, kunjungi blog kami yaitu di http://kelompok19.blog.com.

Daftar Pustaka

Bamualim, Abdullah M, Kusmartono, dan Kuswandi. 2009. Aspek Nutrisi Sapi

Perah. Dalam Buku Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. Bogor.

Djaja, Willyan, Sondi Kuswaryan, dan Ujang H. Tanuwiria. 2007. Efek Substitusi

Konsentrat Oleh Daun Kering Kaliandra. Dalam Ransum Sapi Perah Terhadap Kuantitas Dan Kualitas Susu, Bobot Badan, Dan Pendapatan Peternak. Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, Jatinagor.

Firman, Achmad. 2010. Agribisnis Sapi Perah. Bandung: Widya Padjadjaran

Hartadi, Hari., Soedomo Reksohadiprodjo, dan Allen D. Tilman. 1990. Tabel

Komposisi Pakan untuk Indonesia. Cetakan ke – 2. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Simbaya, J. 2002. Potential of Fodder Tree/Shrub Legumes as a Feed Resource for

Dry Season Supplementation of Smallholder Ruminant Animals. Proceedings of Development and Field Evaluation of Animal Feed Supplementation Packages. IEFA Technical Co-operation Regional AFRA Project organized by the Joint FAO/IAEA Division of Nuclear Techniques in Food and Agriculture and held in Cairo, Egypt, 25–29 November 2000.

Sutardi, Toha. 1997. Peluang dan Tantangan Pengembangan Ilmu-Ilmu Nutrisi

Ternak. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Nutrisi Ternak. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Wahju, Juju. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke – 3. Penerbit Gadjah Mada

University Press. Yogyakarta.

http://brohenk.multiply.com

http://duniasapi.com

http://duniaveteriner.com

http://www.kambingetawa.org

http://www.linkpdf.com

http://www.pikiran-rakyat.com

http://wah1d.wordpress.com

http://wb4.indo-work.com

http://wb7.itrademarket.com

http://w10.itrademarket.com

http://1.bp.blogspot.com

http://2.bp.blogspot.com

http://4.bp.blogspot.com

Lampiran

Tabel 1.1. Kebutuhan Bahan Kering (BK) untuk Sapi Perah dari Periode Pedet sampai Laktasi

No. Umur (bulan) Bobot hidup Kebutuhan BK
Kg % bobot badan
Periode menyusui
1 0 – 1 30 – 40 0,48 – 0,64 1,6
2 1 – 2 40 – 50 0,64 – 1,00 2,0
3 2 – 3 50 – 57 1,00 – 1,40 2,4
4 3 – 4 57 – 64 1,40 – 1,80 2,8
Disapih – 1 tahun
5 4 – 6 64 – 83 1,80 – 2,30 2.89
6 6 – 8 83 – 110 2,30 – 3,10 2,8
7 8 – 10 110 – 136 3,10 – 3,70 2.7
8 10 – 12 136 – 180 3,70 – 4,90 2,7
1 – 3 tahun
9 12 – 18 180 – 275 4,90 – 7,20 2,6
10 18 – 24 275 – 362 7,20 – 8, 30 2,3
11 24 – 30 362 – 412 8,30 – 8,60 2,1
12 30 – 36 412 – 435 8,60 – 8,70 2,0

Sumber: Tanuwiria, 2005

Tabel 1.2. Kebutuhan Zat-zat Gizi untuk Hidup Pokok dan Produksi Sapi Perah

BERAT

BADAN

UNTUK HIDUP POKOK

KADAR

LEMAK

SUSU

UNTUK PRODUKSI 1 KG

SUSU

PROTEIN

(Gr)

ME

(M. Kal)

TDN

(Kg)

LEMAK

SUSU

(%)

PROTEIN

(Gr)

ME

(M. Kal)

TDN

(Kg)

350 341 10,76 14 2,5 72 0,99 0,260
400 373 11,90 15 3,0 77 1,07 0,282
450 403 12,99 17 3,5 82 1,16 0,304
500 432 14,06 18 4,0 87 1,24 0,326
550 461 15,11 20 4,5 92 1,31 0,344
600 489 16,12 21 5,0 98 1,39 0,369

Sumber: (http://www.linkpdf.com)

Gambar 1.1.

Pemanfaatan Pakan oleh Sapi Perah

Sumber: Firman (2010)

Gambar 1.2

Rumput Gajah

Sumber: (http://www.pikiran-rakyat.com)

Gambar 1.3

Rumput Raja

Sumber: (http://4.bp.blogspot.com)

Gambar 1.4

Daun Kaliandra (Calliandra calothyrsus)

Sumber: (http://www.kambingetawa.org)

Gambar 1.4

Dedak Padi Pakan Sapi

Sumber: (http://duniasapi.com)

Gambar 1.5

Serat Hijauan = Tebon Jagung

Sumber: (http://1.bp.blogspot.com)

Gambar 1.5

Rumput Hay

Sumber: (http://www.pikiran-rakyat.com)

Gambar 1.6

Konsentrat

Sumber: (http://2.bp.blogspot.com)

Gambar 1.7

Konsentrat DC

Sumber: (http://wb7.itrademarket.com)

Gambar 1.8

Pakan Ternak Sozo FM-4

Sumber: (http://wb4.indo-work.com)

Gambar 1.9

Tepung Protein Pakan Ternak

Sumber: (http://w10.itrademarket.com)

download di sini:

karya tulis siswa